Tukang Becak
Tadi pagi, aku kena “sentil” tukang becak. Gara-garanya, saat lampu merah, aku berhenti jauh di depan tiang lampu lalu lintas. Kebetulan juga, aku membonceng adik kos yang mengenakan jaket almamater kampus. Lalu lewatlah tukang becak yang mungkin sangat cinta Indonesia. “Waduh, wong mahasiswanya saja suka melanggar aturan, bagaimana Indonesia bisa maju. Mangkane (makanya) Indonesia morat marit,” cetusnya kalem saat melewati motorku.
Meski pelan, kata-kata itu sempat membuat kami berdua keki. Ternyata bapak itu tak perlu sekolah hingga S1 atau S2 untuk tahu bahwa taat pada aturan, sangat diperlukan bangsa dan negara yang kita cintai ini. Buat pak tukang becak, semoga mulai hari ini, saya akan taat aturan. Bukan karena disindir bapak, tapi karena saya ingin Indonesia tidak semrawut lagi.
