Tikus

June 6, 2006

Binatang yang satu ini memang menjijikkan. Apalagi, kalau sampai masuk ke dalam rumah, jaminan banyak barang yang tidak akan aman. Mulai dari makanan, baju hingga sepatu. Karena itu, tak jarang binatang yang ngetop lewat kartun Disney ini diburu manusia.

Sayangnya, tindak lanjut yang dilakukan setelah binatang ini tertangkap itu yang bikin aku kesel. Ada sih yang memilih membunuh dan membuangnya ke sampah. Tapi ada juga yang melemparnya begitu saja dengan harapan tikus itu akan mati kelindes mobil atau motor yang lewat. Masalahnya, di Surabaya, praktek ini sangat banyak. Akibatnya jalanan jadi kelihatan kotor dengan jenasah tikus beserta darahnya yang muncrat kemana-mana.

Mestinya, mereka yang ketahuan bisa ditangkap, mungkin dengan perda larangan membuang sampah sembarangan atau apa, biar Surabaya bersih dari yang beginian. Tapi mungkin pelaksanaannya akan sulit secara ini sudah jadi kejahatan bersama dan malah dianggap lazim.

pengen ngasih gambarnya, tapi dipilih-pilih yang gak menjijikkan kok ga ada.

Tukang Becak

Tadi pagi, aku kena “sentil” tukang becak. Gara-garanya, saat lampu merah, aku berhenti jauh di depan tiang lampu lalu lintas. Kebetulan juga, aku membonceng adik kos yang mengenakan jaket almamater kampus. Lalu lewatlah tukang becak yang mungkin sangat cinta Indonesia. “Waduh, wong mahasiswanya saja suka melanggar aturan, bagaimana Indonesia bisa maju. Mangkane (makanya) Indonesia morat marit,” cetusnya kalem saat melewati motorku.

Meski pelan, kata-kata itu sempat membuat kami berdua keki. Ternyata bapak itu tak perlu sekolah hingga S1 atau S2 untuk tahu bahwa taat pada aturan, sangat diperlukan bangsa dan negara yang kita cintai ini. Buat pak tukang becak, semoga mulai hari ini, saya akan taat aturan. Bukan karena disindir bapak, tapi karena saya ingin Indonesia tidak semrawut lagi.