membaca musik
It’s not about how to read do re mi fa sol. Membaca musik yang aku maksud adalah membaca karakter seseorang melalui selera musiknya. And I think it’s completly nonsense.
Gara-garanya seorang bapak-bapak di kantorku mendekat dan bilang dia tidak bisa membaca diriku. Hah? Aku sempat bingung tapi dia kemudian menceritakan susah menebak karakterku karena musik yang muncul dari playlist winampku beragam. mulai dari Korn, Led Zeppelin, Michael buble, Earth Wind and Fire sampai Elvie Sukaesih, Benyamin S dan Inul Daratista.
Kalau menurutku, membaca karakter seseorang bisa dilakukan kalau kita mengenalnya. Sering berinteraksi atau bertukar pikiran. Lain ceritanya kalau kita paham tentang psikologi manusia. So, I say there’ is no correlation between taste of music and human character.
Tidak adanya korelasi antara dua hal ini, sama dengan tidak adanya korelasi antara korupsi dengan tingkat kesejahteraan. It’s bullshit. Korupsi dilakukan karena mental orangnya memang suka memanfaatkan peluang. Seorang teman mengaku bapaknya yang gajinya diatas 10 juta, masih suka menerima uang pelicin. Dia berkilah, kalau tidak, dia tidak bisa membiayai gaya hidup anaknya yang lumayan mewah. Yah, seperti kata iklan rokok, kalau ada celah, kenapa harus menyerah.
