politik=marketing

June 1, 2006

Seorang teman yang bekerja sebagai wartawan, kemarin marah-marah. Gara-garanya, ada seorang marketing communication yang memperlakukannya dengan tidak layak saat ia menjalankan tugasnya meliput suatu acara di luar kota. Ia bercerita jika perlakuan marcomm tersebut, menyebalkan karena kita hanya diperlakukan dengan manis kalau dinilai menguntungkan. Tapi kalau tidak, kita siap-siap tidak dihiraukan.

Ehm, kalau tidak salah, marcomm, tugasnya memasarkan produk mereka ke media bukan ke konsumen. Marcomm harus benar-benar menjaga hubungannya dengan media karena mereka membutuhkannya dalam jangka panjang. Nah, kata temanku, masalahnya sekarang banyak posisi marcomm swasta, alias tidak didalam perusahaan. Jadi mereka tidak punya sense of belonging terhadap produk atau perusahaan yang mereka wakili. Akibatnya ya itu tadi. Hubungan dengan media, tidak terjalin dengan baik. Mereka akan intens menghubungi dan bersikap manis saat butuh peliputan produk mereka, setelah itu yah yuk dada bye bye

Ia lalu membandingkannya dengan politisi (maksudnya anggota dewan dan pejabat lainnya), mereka tidak memasarkan produk tapi diri mereka agar dikenal masyarakat. dengan demikian, ia bisa mendapatkan suara saat pemilu. Biasanya, hubungan akan terjalin dengan baik menjelang pemilu, tapi masalahnya, setelah terpilih, mereka keasyikan dengan proyeknya diatas sana dan tidak peduli dengan pemilihnya dulu. Padahal hubungan politisi dengan konstituennya juga harus terjalin dalam jangka panjang.

Hmmm, analogi yang menarik juga sih….

topeng

Tidakkah kita semua mengenakan topeng? Saat bertemu dengan bos yang kita benci, beranikah kita menunjukkan sikap tidak suka? Tentu tidak kalau kita tidak ingin kehilangan pekerjaan. Saat ada orang yang tidak kita sukai mengajak berhubungan serius, bisakah kita langsung bilang tidak karena kita tidak suka? Aku rasa sebagian besar dari kita akan berusaha mencari jalan penolakan sehalus mungkin.

Oke kalau ada yang bilang itu sopan santun. Kalau kita berusaha bersopan ria, bukankah itu menunjukkan kalau kita sudah memasang topeng sopan pada muka kita yang sebenarnya tidak sopan?

Aku belajar, menjadi diri sendiri ternyata tidak baik. Tidak kalau kita harus bertahan ditengah bentuk masyarakat seperti ini.