politik=marketing
Seorang teman yang bekerja sebagai wartawan, kemarin marah-marah. Gara-garanya, ada seorang marketing communication yang memperlakukannya dengan tidak layak saat ia menjalankan tugasnya meliput suatu acara di luar kota. Ia bercerita jika perlakuan marcomm tersebut, menyebalkan karena kita hanya diperlakukan dengan manis kalau dinilai menguntungkan. Tapi kalau tidak, kita siap-siap tidak dihiraukan.
Ehm, kalau tidak salah, marcomm, tugasnya memasarkan produk mereka ke media bukan ke konsumen. Marcomm harus benar-benar menjaga hubungannya dengan media karena mereka membutuhkannya dalam jangka panjang. Nah, kata temanku, masalahnya sekarang banyak posisi marcomm swasta, alias tidak didalam perusahaan. Jadi mereka tidak punya sense of belonging terhadap produk atau perusahaan yang mereka wakili. Akibatnya ya itu tadi. Hubungan dengan media, tidak terjalin dengan baik. Mereka akan intens menghubungi dan bersikap manis saat butuh peliputan produk mereka, setelah itu yah yuk dada bye bye
Ia lalu membandingkannya dengan politisi (maksudnya anggota dewan dan pejabat lainnya), mereka tidak memasarkan produk tapi diri mereka agar dikenal masyarakat. dengan demikian, ia bisa mendapatkan suara saat pemilu. Biasanya, hubungan akan terjalin dengan baik menjelang pemilu, tapi masalahnya, setelah terpilih, mereka keasyikan dengan proyeknya diatas sana dan tidak peduli dengan pemilihnya dulu. Padahal hubungan politisi dengan konstituennya juga harus terjalin dalam jangka panjang.
Hmmm, analogi yang menarik juga sih….
