bursa kerja
saat sudah lulus seperti ini, ada satu kosakata yang sering jadi bahan pembicaraan geng ngibul, yup the magic word is bursa kerja. “Eh ada job fair di ITS lo tanggal sekian,” atau “JPC juga bikin bursa kerja di GSG, tapi bayarnya mahal,” atau “Di WTC job fairnya kamis jumat atau sabtu minggu yak?”
pada awalnya, aku memandang bursa kerja ini sebagai sisi positif. maksudnya, menolong para fresh graduate seperti kita ini untuk lebih mudah mencari pekerjaan yang cocok.
tapi lama kelamaan aku merasa adanya permainan di belakang. maksudnya, bursa kerja sudah jadi peluang bisnis tersendiri. apalagi, hampir tidak ada bursa kerja yang tidak memungut bayaran. kalau dua ribu hingga tiga ribu sih mungkin gak masalah, tapi ada job fair yang menarik tiket seharga 20 hingga 30 ribu sekali masuk. bayangkan…berapa keuntungan yang bakal didapat.
bau bisnis ini semakin tercium dengan adanya isi bursa kerja yang gak cocok. pernah sekali waktu aku ikut bursa kerja di WTC surabaya. ada beberapa perusahaan yang menawarkan lowongan tapi lebih banyak lagi yang menawarkan produk mereka. Masalahnya ketika ada bursa kerja, kita gak tau apa yang ada didalamnya. jadi rasanya seperti membeli kucing dalam karung.
pergeseran apa yang terjadi ya. mungkin dimasa seperti ini semuanya bisa dibisniskan atau perusahaan tidak mau rugi saat merekrut pekerjanya
