setahun tsunami

December 22, 2005

Saat ini empat hari menjelang peringatan satu tahun peristiwa badai tsunami yang menghantam aceh dan beberapa negara Asia lainnya. Yang terpikirkan sekarang adalah bagaimana nasib warga Aceh sekarang. Apakah mereka sudah pulih? Apakah bantuan yang dulu mengalir terus menerus kini sudah berhenti? Sungguh, ingin rasanya aku ke sana dan melihat dengan mata kepala sendiri.

Mengenang tsunami membuatku teringat masa-masa menjadi penerima sumbangan. Kebetulan tempatku bekerja adalah media yang sangat terpandang didaerah Jatim, terutama Surabaya. Otomatis, bantuan yang mengalir juga lumayan banyak. Tapi yang begitu berkesan adalah sikap orang-orang yang memberikan sumbangan.

Ada anak-anak yang membawa celengan ayam yang gedhe berisi uang receh sehingga kami menghabiskan waktu dua jam lebih untuk menghitungnya, ada murid SMA yang membawa uang ribuan, lima ratusan hingga duapuluh lima perak satu kardus Indomi. Alhasil kami harus ndodok dibawah dan menghitungnya satu persatu supaya tidak ada yang nempel. Setelah selesai, tangan jadi menghitam akibat kotoran dari duit tersebut. Aku sempet juga teledor sampe harus merelakan uang makan untuk mengganti jumlah sumbangan yang salah tulis. Apapun itu, aku senang. Meski tak bisa kesana langsung dan hanya sedikit tenaga yang kuberi.

Salah satu yang masih teringat sampe sekarang adalah saat ada dua bapak-bapak dari suatu perusahaan yang tak begitu besar ngotot minta difoto saat menyerahkan sumbangan. Padahal saat itu, fotografer kami sedang makan di bawah. Akhirnya mereka menunggu selama dua jam dan mengulang serah terima agar terlihat bagus saat difoto. Tak sedikit yang seperti itu. Malah, ada ibu-ibu yang bawa kamera sendiri dan minta difoto dalam berbagai pose.

Sekarang, aku sedang menunggu laporan tersebut. Karena yang mengelola orang-orang diatasku, aku tidak tahu bagaimana proses penyerahan bantuannya. Kalau tidak salah, dana itu diwujudkan jadi beberapa rumah cepat. Tapi berapa dana yang terpakai atau yang tersisa belum jelas. Mungkin laporannya akan dipublikasikan bersamaan dengan peringatan satu tahun tsunami. KIta lihat saja nanti.

he’s already taken

December 17, 2005

dan malam itu terasa menyakitkan. aku tak memakai jaket, helm, atau slayer hingga skujur badanku terasa dingin akibat angin yang mendera.
lalu, hatiku semakin dingin saat ku melihat cincin di jari manisnya.
damn…kenapa harus selama ini sampai aku menyadari dia sudah jadi milik orang lain. padahal aku dah tahu bagaimana bentuk undangan dan baju yang akan kupakai di pesta pernikahan kami nanti.

bursa kerja

December 12, 2005

saat sudah lulus seperti ini, ada satu kosakata yang sering jadi bahan pembicaraan geng ngibul, yup the magic word is bursa kerja. “Eh ada job fair di ITS lo tanggal sekian,” atau “JPC juga bikin bursa kerja di GSG, tapi bayarnya mahal,” atau “Di WTC job fairnya kamis jumat atau sabtu minggu yak?”
pada awalnya, aku memandang bursa kerja ini sebagai sisi positif. maksudnya, menolong para fresh graduate seperti kita ini untuk lebih mudah mencari pekerjaan yang cocok.
tapi lama kelamaan aku merasa adanya permainan di belakang. maksudnya, bursa kerja sudah jadi peluang bisnis tersendiri. apalagi, hampir tidak ada bursa kerja yang tidak memungut bayaran. kalau dua ribu hingga tiga ribu sih mungkin gak masalah, tapi ada job fair yang menarik tiket seharga 20 hingga 30 ribu sekali masuk. bayangkan…berapa keuntungan yang bakal didapat.
bau bisnis ini semakin tercium dengan adanya isi bursa kerja yang gak cocok. pernah sekali waktu aku ikut bursa kerja di WTC surabaya. ada beberapa perusahaan yang menawarkan lowongan tapi lebih banyak lagi yang menawarkan produk mereka. Masalahnya ketika ada bursa kerja, kita gak tau apa yang ada didalamnya. jadi rasanya seperti membeli kucing dalam karung.
pergeseran apa yang terjadi ya. mungkin dimasa seperti ini semuanya bisa dibisniskan atau perusahaan tidak mau rugi saat merekrut pekerjanya

kkn

December 9, 2005

tililut…tililut…
sebuah sms masuk dari hapeku, pengirimnya seorang teman kuliah yang sering nongkrong bareng sampe sekarang.
“jeng, ada lowongan ********di kantormu ya, aku nitip aplikasi yah”
aku terdiam lama, bingung juga menjawabnya. there are several things why I don’t like this questions.
kalo aku jawab iyah, pasti aku akan langsung berhadapan dengan tukang rekrut di kantor. padahal aku paling malas seperti ini, aku lebih suka kalau dia pake jalur umum saja. bukannya sok anti kkn sih, tapi apa susahnya sih pake jasa pos?
dan yang kedua, jujur saja aku gak suka ada temen lama yang kerja bareng dalam satu kantor. rasanya kok dunia ini sempit banget. apalagi, pengalaman dari temen yang kerja satu kantor ketika ada masalah dalam pertemanan, masalah itu kebawa sampe kantor. begitu pula sebaliknya.
dulu, satu-satunya alasan aku ngelamar ke kantor ini karena aku yakin gak ada orang yang aku kenal disini.
tapi kalo dia sudah coba jalur yang semestinya dan keterima, ya udah gak papa. but I don’t wont to get involved
gosh, what should I do now

hey man

December 8, 2005

hey man, ask me politely will ya
say it loud and clear
so I can say yes
without hesitate
coz from deep down inside,
I do

saya masih sakit

iyah, luka itu sudah lama. mungkin sudah hampir mengering. tapi luka itu akan tetap ada bekasnya. apalagi sembilu yang dulu menggoresnya, masih ada di dekatku.
saat ini, ia tak berusaha menggariskan luka baru tapi keberadaannya saja sudah membuat aku ngilu

pilm india

December 4, 2005

“mbak kemaren aku kayak pilm india deh,” ujar seorang adik kos membuka percakapan. aku yang lagi asik makan bakso meliriknya. “Pilm india, maksudnya?”.
si adik tersenyum nakal. “pas ke dokter gigi, dokter bilang aku harus dioperasi karena letak giginya yang repot. trus aku bilang ke cowokku kalo aku takut operasi. ntar kalo aku mati gimana. eh dia bilang biarin ntar dia cari cewek lagi. kesel kan!”
“trus aku marah, pas keluar ruangan, aku jalan cepat ninggalin cowokku. eh dianya ngejar sambil tereak-tereak. pas nyampe depan rumah sakit aku langsung naik jembatan penyeberangan. eh dia gak berenti tereak-tereaknya, huh… bener-bener kayak pilm india”
aku tersenyum. “sekarang?”
“hehehe, sekarang aku dah baikan. malah tadi kita ngobrol pengen nikah secepatnya,” si adik mengerling. what…
“dek, kamu umur berapa sih? trus kuliahmu semester berapa? pacaran sama dia sudah berapa tahun?” tanyaku cepet.
“ah mbak, aku emang masih 19 taon. dia juga. tapi aku dah ngerasa dia yang paling tepat.” here we go…
“dek, apa kamu nggak pengen nyelesein kuliah dulu, trus kerja, sapa tau kamu ketemu yang lain.”
“mbak sih, nggak pernah pacaran. mbak, kalo kita dan punya pacar dan ngerasa cocok, kita pasti kepikiran untuk segera menikah,” ujarnya santai.
ups, aku merasa ditikam tepat di ulu hati. pake pisau yang tumpul jadi perihnya semakin terasa. kata-katanya itu, bukti semakin ia dewasa atau hanya keseringan nonton pilm india?
entahlah…..

hari ini aneh

December 2, 2005

karena motorola C115 ku jatuh ketangan sepupuku, sementara aku pake siemens SL45 milik kakak yang antenanya dah pecah. dari pertama aku dah dipeseni kalo henpon ini aneh. kadang multimediacardnya bisa kadang enggak. atau kalo lagi ditelepon, tiba-tiba mati atau kadang ada bunyi sms masuk tapi layarnya gak berubah.
tapi hari ini benar-benar aneh….
ceritanya, aku lagi ujian skripsi, karena itu henpon aku titipin ke laila, yang nemenin aku ujian. pas aku lagi keluar, laila bilang tadi ada yang telepon. namanya sarip dan dibilang aku lagi ujian. aku bingung campur seneng campur geer. terus terang aku naksir sarip dan gak nyangka kalo dia bakal menghubungi aku pas ujian. siangnya, sarip kasih sms selamat. pas aku replay, aku ngerasa aneh. yang keluar namanya sarip tapi nomornya beda. mestinya sarip nomornya 081550xxxxx tapi yang tertulis kok 0813350xxxxx, lima angka dibelakangnya sama persis. kecurigaanku terjawab ketika nomor aneh sarip telepon. ternyata, bukan sarip tapi om ku.
jelas aja bete surete, kok bisa sih…padahal aku dan kadung seneng. akhirnya gondok karena gak jadi geer
malemnya, tanpa diduga tanpa dinyana, sarip sms beneran. dan kali ini sarip asli karena nomor awalnya 081550 apalagi gaya bicaranya dah persis sarip yang kukenal. hehehehe kok bisa yah?
hari yang aneh memang ;p

lulus

tadi pagi aku ujian skripsi. dinyatakan lulus sih, tapi aku malu. aku dah lupa semuanya. apalagi hasil karya tulisku masih jauh dari bagus. ketiga dosen pengujiku juga mengatakan jika nilai yang mereka berikan sangat subyektif atau dalam kata lain adalah nilai kasihan. sekarang aku malu bukan karena aku belum lulus. tapi aku malu karena lulus dengan nilai kasihan.