a nu beginning?

September 12, 2005

besok jam tujuh pagi, aku harus menjalani tes di ITS demi mendapatkan pekerjaan di perussahaan otomotif (eh sort of…). demi kehidupan yang normal dan mencoba sesuatu yang baru serta masa depan yang lebih baik (semoga)

untuk unexplained power outthere
jika ini jalanku, lapangkanlah…jika memang ini bagian dari rencanamu untukku, aku akan berusaha sekuat mungkin dan sisanya kuserahkan padamu

how well do we know our friends

kerjaan yang hampir setiap hari dari sore hingga tengah malam, membuat aku gak bisa meluangkan waktu banyak untuk berinteraksi dengan teman satu kos. semalem, saat teman sekamar masih belum terlelap dan aku tak begitu merasa capek, jadilah kami ngobrol beberapa saat membicarakan tema-teman satu kosan.

cerita pertama membuat aku bener-bener terkejut. salah seorang teman, yang dikenal baik-baik saja, nekat memasukkan laki-laki untuk menginap di kos-kosan. meski tak sekamar, kejadian itu membuat kita sebel karena kos kita khusus buat cewek. plus disana banyak yang make jilbab jadi agak repot kalo ada laki-laki yang masuk.

aku semakin merasa tak kenal temanku sendiri saat si tanti yang lumayan deket denganku rela menyerahkan virginitasnya kepada mbul. bukannya aku hipokrit, aku gak masalah kalo dia mau melakukannya dengan pacarnya atau orang yang mencintainya. masalahnya si Mbul hanyalah bajingan licik yang sudah punya calon dan siap menikah dalam waktu dekat.

gosh… I Finally know that I know nothing

PNS

eh kamu gak daftar, bentaran lagi ada bukaan PNS lo, kata seorang teman kepada saya. ehm…PNS, langsung deh terbayang bagaimana susahnya ngurus kartu kuning, berjubel ambil formulir, atau ujian yang bolak-balik tertunda seperti penerimaan PNS awal tahun ini. padahal in the end, orang-orang yang -tanpa-pelicin-atau-tanpa -kenalan bakalan gak mungkin bisa keterima. kalaupun ada, probabilitasnya mungkin hanyalah satu banding sejuta (maap ini data tanpa penelitian resmi)

pernah suatu saat, aku ngobrol iseng dengan Pak Joko, dosen HI kesayanganku (hehe apa kabar idealis pak). aku cerita kalo salah satu temenku yang keterima PNS, sampe sekarang gak ada kerjaan jelas. jadinya, dia cuma datang, beres-beres meja, ngetik kalo ada yang perlu diketik, trus main komputer, makan siang, ngobrol bentar lalu pulang. there you are….sebenarnya pemerintah butuh PNS gak sih?

kita berdua lalu ngobrol ngalor ngidul hingga sampe pada kesimpulan, pemerintah butuh PNS, tapi bukan untuk mengerjakan tugas tapi untuk meredam gejolak sosial. seperti yang kemaren atau yang akan datang, penerimaan PNS dilakukan setelah pemerintah menaikkan harga, entah BBM, telepon atau listrik. kenaikan ini pastinya akan memicu gejolak sosial dalam masyarakat.

sekarang bayangin aja, kalo satu orang kterima PNS, berapa orang yang ikut merasakan senangnya, orang tua, kakak atau adik, pacar, om, tante dan kerabat lainnya. kalo mereka senang, pastinya mereka bakal mengurungkan rencana untuk mendemo pemerintah misalnya. ini kalo cuman satu, tapi bayangin kalo ratusan ribu, berapa juta orang yang berhasil dibungkam pemerintah?

yah, apapun alasannya, semua orang berhak mendapat kehidupan yang lebih baik. biar jadi PNS atau pegawa swasta. tapi pemerintah mungkin harus merencanakan sesuatu yang lebih baik seperti merekrut PNS baru tapi memang pada sektor yang membutuhkan (guru).