eh kamu gak daftar, bentaran lagi ada bukaan PNS lo, kata seorang teman kepada saya. ehm…PNS, langsung deh terbayang bagaimana susahnya ngurus kartu kuning, berjubel ambil formulir, atau ujian yang bolak-balik tertunda seperti penerimaan PNS awal tahun ini. padahal in the end, orang-orang yang -tanpa-pelicin-atau-tanpa -kenalan bakalan gak mungkin bisa keterima. kalaupun ada, probabilitasnya mungkin hanyalah satu banding sejuta (maap ini data tanpa penelitian resmi)
pernah suatu saat, aku ngobrol iseng dengan Pak Joko, dosen HI kesayanganku (hehe apa kabar idealis pak). aku cerita kalo salah satu temenku yang keterima PNS, sampe sekarang gak ada kerjaan jelas. jadinya, dia cuma datang, beres-beres meja, ngetik kalo ada yang perlu diketik, trus main komputer, makan siang, ngobrol bentar lalu pulang. there you are….sebenarnya pemerintah butuh PNS gak sih?
kita berdua lalu ngobrol ngalor ngidul hingga sampe pada kesimpulan, pemerintah butuh PNS, tapi bukan untuk mengerjakan tugas tapi untuk meredam gejolak sosial. seperti yang kemaren atau yang akan datang, penerimaan PNS dilakukan setelah pemerintah menaikkan harga, entah BBM, telepon atau listrik. kenaikan ini pastinya akan memicu gejolak sosial dalam masyarakat.
sekarang bayangin aja, kalo satu orang kterima PNS, berapa orang yang ikut merasakan senangnya, orang tua, kakak atau adik, pacar, om, tante dan kerabat lainnya. kalo mereka senang, pastinya mereka bakal mengurungkan rencana untuk mendemo pemerintah misalnya. ini kalo cuman satu, tapi bayangin kalo ratusan ribu, berapa juta orang yang berhasil dibungkam pemerintah?
yah, apapun alasannya, semua orang berhak mendapat kehidupan yang lebih baik. biar jadi PNS atau pegawa swasta. tapi pemerintah mungkin harus merencanakan sesuatu yang lebih baik seperti merekrut PNS baru tapi memang pada sektor yang membutuhkan (guru).