wisuda

September 17, 2005

tadi siang, ditengah sengatan sinar matahari yang kejam dan membuat kulitku semakin menghitam, aku beli bunga buat temen sekamar yang mau wisuda. karena duit didompet tinggal sepuluh ribu, terpaksa deh ngutang ama tetangga kamar. perjuangan terasa semakin berat karena lokasi beli bunga dan lokasi wisuda lumayan jauh.

sebenarnya bukan itu yang bikin aku merasa tersiksa dan merana tapi W-I-S-U-D-A dengan segala tetek bengeknya.

mulai dari ngurusin baju, mekap, kendaraan buat keluarga sampe pewe dan kekhawatiran jika nanti gak ada temenku yang datang dan ngasih bunga. iya-iya childish banget. malah mungkin ada yang bilang itu gak penting. but it dit make me nervous.

ehm.. kapan yah aku wisuda? seperti apa aku kalo wisuda. ah bayangin aja aku takut.

a nu beginning?

September 12, 2005

besok jam tujuh pagi, aku harus menjalani tes di ITS demi mendapatkan pekerjaan di perussahaan otomotif (eh sort of…). demi kehidupan yang normal dan mencoba sesuatu yang baru serta masa depan yang lebih baik (semoga)

untuk unexplained power outthere
jika ini jalanku, lapangkanlah…jika memang ini bagian dari rencanamu untukku, aku akan berusaha sekuat mungkin dan sisanya kuserahkan padamu

how well do we know our friends

kerjaan yang hampir setiap hari dari sore hingga tengah malam, membuat aku gak bisa meluangkan waktu banyak untuk berinteraksi dengan teman satu kos. semalem, saat teman sekamar masih belum terlelap dan aku tak begitu merasa capek, jadilah kami ngobrol beberapa saat membicarakan tema-teman satu kosan.

cerita pertama membuat aku bener-bener terkejut. salah seorang teman, yang dikenal baik-baik saja, nekat memasukkan laki-laki untuk menginap di kos-kosan. meski tak sekamar, kejadian itu membuat kita sebel karena kos kita khusus buat cewek. plus disana banyak yang make jilbab jadi agak repot kalo ada laki-laki yang masuk.

aku semakin merasa tak kenal temanku sendiri saat si tanti yang lumayan deket denganku rela menyerahkan virginitasnya kepada mbul. bukannya aku hipokrit, aku gak masalah kalo dia mau melakukannya dengan pacarnya atau orang yang mencintainya. masalahnya si Mbul hanyalah bajingan licik yang sudah punya calon dan siap menikah dalam waktu dekat.

gosh… I Finally know that I know nothing

PNS

eh kamu gak daftar, bentaran lagi ada bukaan PNS lo, kata seorang teman kepada saya. ehm…PNS, langsung deh terbayang bagaimana susahnya ngurus kartu kuning, berjubel ambil formulir, atau ujian yang bolak-balik tertunda seperti penerimaan PNS awal tahun ini. padahal in the end, orang-orang yang -tanpa-pelicin-atau-tanpa -kenalan bakalan gak mungkin bisa keterima. kalaupun ada, probabilitasnya mungkin hanyalah satu banding sejuta (maap ini data tanpa penelitian resmi)

pernah suatu saat, aku ngobrol iseng dengan Pak Joko, dosen HI kesayanganku (hehe apa kabar idealis pak). aku cerita kalo salah satu temenku yang keterima PNS, sampe sekarang gak ada kerjaan jelas. jadinya, dia cuma datang, beres-beres meja, ngetik kalo ada yang perlu diketik, trus main komputer, makan siang, ngobrol bentar lalu pulang. there you are….sebenarnya pemerintah butuh PNS gak sih?

kita berdua lalu ngobrol ngalor ngidul hingga sampe pada kesimpulan, pemerintah butuh PNS, tapi bukan untuk mengerjakan tugas tapi untuk meredam gejolak sosial. seperti yang kemaren atau yang akan datang, penerimaan PNS dilakukan setelah pemerintah menaikkan harga, entah BBM, telepon atau listrik. kenaikan ini pastinya akan memicu gejolak sosial dalam masyarakat.

sekarang bayangin aja, kalo satu orang kterima PNS, berapa orang yang ikut merasakan senangnya, orang tua, kakak atau adik, pacar, om, tante dan kerabat lainnya. kalo mereka senang, pastinya mereka bakal mengurungkan rencana untuk mendemo pemerintah misalnya. ini kalo cuman satu, tapi bayangin kalo ratusan ribu, berapa juta orang yang berhasil dibungkam pemerintah?

yah, apapun alasannya, semua orang berhak mendapat kehidupan yang lebih baik. biar jadi PNS atau pegawa swasta. tapi pemerintah mungkin harus merencanakan sesuatu yang lebih baik seperti merekrut PNS baru tapi memang pada sektor yang membutuhkan (guru).

persepsi

September 8, 2005

people always say don’t judge a book by it’s cover. but in the reality, it doesnt go like that. appearance is the most important things, you do judged by the way you look, talk, even walk.
let put it this way. in a food corner, you meet a guy with his long and massy hair. what would you think?
an political activist? an artist? or a boss?

in the meantime, you meet a man who dress up with neat hair, and smells good. then what crossed in your mind?

see?

beruntung?

September 7, 2005

eh si luluk ketrima di P***, itu kan LSM asing, pasti gajinya gedhe. dia tuh beruntung banget. biar mukanya biasa-biasa aja, cowoknya ganteng-ganteng lo. pas dia pengen ke luar negeri, perusahaannya ngirim dia ke Singapura, pas dia pengen lulus, dosen penguji skripsinya baik banget trus sekarang pas banyak orang susah dapet kerja, eh dia ambil tiga kerjaan sekaligus.

aku diem sambil mandangin temenku yang ngoceh sambil nyetir.

beruntung? apa iya ada yang namanya keberuntungan? kita diem aja trus bisa dapetin semua yang kita pengenin? kalau begitu enak banget dong orang yang beruntung. gak usah kerja keras tapi dapet yang enak-enak.

but wait a minute

kayaknya lebih dari keberntungan yang dimiliki si Luluk. satu, dia datang dari keluarga yang kekurangan jadi ia terbiasa bekerja keras. ia juga ramah dan gak pernah mandang negatif semua orang. dia juga gak pernah ngoyo ngedapetin semua hal, jadi tingkat ekspektasinya juga gak begitu tinggi nothing to loose kalo orang asing bilang mah….

tapi gimana semua itu bisa bikin dia kayak gini?

hmmmm, mari kita renungkan sendiri-sendiri.

adil

September 6, 2005

“duh aku capek mbak, barusan ngurus paspor buat keluar”
jleb…perkataan yang-gak-diniatin-nyakitin-tapi-menusuk-sampe-ke-jantung hingga membuaku berhenti bernafas (iya..iya hiperbolis ;p)
“keluar?keluar negeri maksudnya?” duoh bodohnya diriku, ya iyalah masa paspor buat pergi ke tegal.
“iya ke Singapura, berangkat kamis besok”
“oh” dan ga ada kata-kata lagi sampe si munyuk cewek itu meninggalkan mejaku.

ini gak adil, ini gak fair. kenapa si munyuk yang baru bekerja selama enam bulan itu bisa dapet kesempatan keluar, padahal mestinya ini kan giliran aku. bukannya dulu mereka bilang kesempatan keluar akan diberikan berdasarkan masa kerja. ini gak adil…..

bagaimana sih kita mengukur adil? apakah adil adalah dua bagian yang terbagi sama rata? atau sesuatu yang terbagi berdasarkan porsinya?

apakah adil kalau seorang pemerkosa hanya dihukum hitungan tahun atau bulan kalau hasil perbuatannya tertinggal sampai akhir hayat? apakah adil ibu-ibu tua yang berjudi dihukum cambuk sementara koruptor diberi sel penuh fasilitas? apakah adil jika manusia berpakaian rapi jali boleh masuk mall sementara anak manusia berpakaian lusuh dibuntuti satpam kalau masuk ke gedung yang sama?

adil=relatif?