style of life

August 30, 2005

habis jalan-jalan dari rumahnya mbak okke di sini
inspiring banget dah
speechless jadinya

edan, gila atau sinting

terus terang saja, saya tidak bisa membedakan ketiga kata tersebut karena aku seringkali menggunakannya untuk menyebut mereka yang berperilaku tidak normal atau diluar kewajaran. sebenarnya ada juga istilah seperti tidak waras, 95(karena tidak 100 alias tidak penuh, saya bingung juga darimana istilah ini), miring atau macem-macem lainnya. temen saya yang sok tau menyebut istilah itu sebagai schizoprenia, entahlah

tapi yang pasti, saya prihatin karena dengan alasan tersebut, banyak pelaku kriminal terutama pembunuhan yang dibebaskan. sebut saja kasus yang baru-baru ini rame, seorang pria membunuh dan memutilasi tetangganya baca disini namun ia tidak bisa diproses lebih lanjut karena dianggap gila. belum lagi seorang pria yang membunuh imam masjid saat sholat lagi-lagi ia tidak bisa diproses karena dinyatakan gila.

kalau mereka tidak bisa diamankan, tidak menutup kemungkinan mereka akan melakukannya lagi. malah lebih parah. jadi masyarakat disekitarnya tidak bisa tenang. mau dimasukkan ke rumah sakit jiwa pun palingan hanya bertahan sementara. nanti mereka bisa lepas baik karena melarikan diri, atau sengaja dilepas karena keluarganya tak sanggup membiayai lagi.

peristiwa yang sama juga pernah terjadi dikampungku. tetangga sebelah rumah bersikap aneh setelah ngelmu atau belajar ilmu hitam. orang-orang kampung resah karena ia sering memukuli anak istri atau ibunya. tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena keluarga besar si pria itu bilang tidak ada masalah. tapi ketika si pria itu berani memukul seorang tetangga, warga kampung langsung menyerahkannya ke kepolisian. namun hasil pemeriksaan menyatakan dia gila jadi dirujuk ke RSJ Menur. ternyata ketenangan masyarakat tidak bertahan lama karena keluargnya diam-diam melepaskannya.

warga kampung kembali resah. saya yakin keresahan yang sama juga dirasakan warga disekitar lokasi dua pembunuhan diatas. sayangnya tidak ada langkah konkrit dari pemerintah untuk mengatasi hal ini. kalau memang polisi tidak mampu menangani pelaku kriminal yang dikategorikan gila, mengapa tidak dibuka institusi yang bisa menampung mereka, mungkin untuk selamanya. mungkin ada RSJ tapi rasanya mereka tidak berfungsi maksimal. saya pernah baca mereka mengeluh karena keterbatasan dana dan tenaga, mereka tidak bisa merawat orang-orang yang dikirim kesana secara maksimal.

mungkin ada juga semacam padepokan pengobatan alternatif yang dulu pernah ditayangkan stasiun televisi swasta (sayangnya saya lupa) tapi jumlah mereka hanya terbatas di lokasi-lokasi tertentu.

hingga kini saya masih berfikir, jalan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah ini. saya tidak ingin kasus seperti diatas terulang kembali atau kasus mbah jiwo yang dulu pernah bikin heboh saat memutilasi anak-anak dan berniat menyantapnya.